Jelang PSU Barito Utara, Rumor Politik Uang Semerbak

Oplus_131072

FAKTA KALTENG – Memasuki 12 hari lagi pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang akan diselenggarakan oleh KPUD Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada 22 Maret 2025 di dua TPS yang menjadi tempat pelaksanaan PSU yaitu TPS 01 Melayu dan TPS 04 Desa Malawaken.

 

Berdasarkan pantauan Faktakalteng.id di lapangan beberapa hari ini, ramai masyarakat Barito Utara membahas terkait Money Politic (Politik Uang), dan sangat santer sekali isu dan rumor adanya politik uang berkembang dimasyarakat menjelang PSU nanti.

 

Seorang warga Muara Teweh, bernama abang Kurik panggilannya yang tinggal dan bermukim di wilayah Pasar IPU Muara Teweh, dan juga kebetulan Urik juga salah satu warga yang akan mengikuti pencoblosan PSU di TPS 01 Melayu mengatakan, “Sejak ditetapkannya jadwal PSU pada tanggal 22 Maret 2025 nanti, banyak tetangga dan warga dilingkungan sekitar tinggal saya ini, begitu antusias membahas pelaksanaan PSU, ” Ujar Kurik menceritakan kepada Faktakalteng.id.

 

Bang Kurik juga menambahkan bahwa, “Masing – masing tetangga saya dengan pendapatnya dan dukungannya, ada yang mendukung paslon 01 dan ada pula yang mendukung paslon 02, mereka bersemangat membahas keunggulan paslon yang akan dipilihannya nanti, dan sepertinya warga dilingkungan saya itu, penasaran sekali apakah benar desas-desus praktek politik uang, untuk membeli suara pemilih itu ada dan terjadi, ” Ungkapnya penasaran.

 

Selanjutnya Bang Kurik juga menginformasikan pendapatnya bahwa, “Sepertinya mayoritas warga disini, setuju dan sepakat menolak adanya praktek Politik uang itu. Karena dengan pertimbangan kalkulasi yang kami hitung-hitung, apabila ada salah satu paslon melakukan praktek politik uang. Secara logika kita analogikan’ uangnya Rp.10 juta,- dibagi selama lima tahun cuma berapa harga suara kami dibeli, ” Ujar bang Kurik terkekeh.

 

Kemudian bang Kurik, mengajak Faktakalteng.id menghitungnya dengan hitungan untung rugi, “Uangnya Rp.10.000.000/orang ÷ 365 hari ÷ 5 tahun kedepan, jadi Suara kami itu, hanya di hargai kalau dibulatkan cuma Rp. 6.000 saja / harinya. Jadi kami sepakat benar-benar akan memilih paslon yang benar – benar tidak melakukan Politik Uang, karena kami memberikan suara kami nanti, benar – benar dari hati nurani kami, apalagi PSU inikan dilaksanakan pada bulan Puasa Ramadhan, ” Terang bang Kurik penuh Khidmad, kalau dia adalah orang yg religius.

 

Diakhir obrolan bersama bang Kurik juga berpesan, “Semoga saja pelaksanaan PSU nanti lancar dan aman. Jika ada Paslon ataupin TimSes paslon yang melakukan praktek politik uang, ambil saja uangnya. kita diberi, bukan meminta. Pilihlah’ pemimpin yang amanah dan dipercaya, dengan hati nurani kita, karena suara kita, nantinya adalah kunci penentu arah baik atau buruknya daerah kita ini, untuk lima tahun kedepan. “Tutup bang Kurik penuh semangat berpesan. (Van).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *