FAKTA KALTENG – Kalimantan Tengah kembali masuk radar investasi perusahaan teknologi kelas dunia.
HNAC Technology Co., Ltd., perusahaan asal Tiongkok yang dikenal sebagai salah satu pemain global di bidang otomasi pembangkit listrik dan energi hijau, mulai menjajaki kerja sama strategis dengan PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya dan PDAM Kota Palangka Raya.
Langkah tersebut ditandai dengan pengajuan audiensi resmi yang ditandatangani Direktur Pemasaran Internasional HNAC, Liao Kun.
Tak hanya menawarkan produk, perusahaan ini membawa konsep kolaborasi jangka panjang melalui layanan terpadu (One-Stop EPC), transformasi digital, hingga pengembangan energi baru terbarukan yang dinilai sejalan dengan arah pembangunan nasional menuju ekonomi hijau.
Bagi PLN, HNAC menawarkan teknologi smart grid, sistem otomasi pembangkit, serta integrasi energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan pembangkit listrik tenaga air.
Perusahaan tersebut mengklaim telah mengimplementasikan teknologi di lebih dari 10.000 proyek yang tersebar di sekitar 40 negara selama hampir 30 tahun beroperasi.
Di sektor pelayanan air bersih, HNAC menawarkan digitalisasi melalui meter air berbasis Internet of Things (IoT), otomasi stasiun pompa, teknologi pengolahan air modern, hingga sistem efisiensi energi yang mampu menekan biaya operasional perusahaan daerah.
Yang paling menarik, HNAC juga membuka peluang investasi lebih besar di Indonesia.
Melalui perwakilannya, perusahaan menyampaikan ketertarikan untuk mengkaji pembangunan fasilitas manufaktur atau pabrik di Indonesia apabila kerja sama berkembang dan iklim investasi dinilai kondusif.
Kalimantan Tengah dipandang memiliki posisi strategis karena berada di jantung Pulau Kalimantan sekaligus menjadi daerah penyangga IKN Nusantara.
Delegasi HNAC dipimpin langsung oleh Liao Kun, didampingi Reena Liao, Jiang Shuxian, Wiwin Murtiningsih selaku agen Indonesia, Normah sebagai mitra Kalimantan, serta Endeh Hidik sebagai Perwakilan Khusus HNAC Indonesia di Kalimantan Tengah.
Apabila rencana investasi tersebut terealisasi, manfaatnya diperkirakan tidak hanya dirasakan sektor kelistrikan dan air minum.
Kehadiran industri teknologi berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, mendorong alih teknologi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal, memperkuat daya saing daerah, serta mempercepat transformasi Kalimantan Tengah menuju pusat industri berbasis energi hijau.
Masuknya HNAC menjadi penanda bahwa Kalimantan Tengah mulai dipandang sebagai kawasan yang menjanjikan bagi investasi teknologi berteknologi tinggi.
Dengan dukungan pemerintah daerah, BUMN, dan dunia usaha, peluang ini dapat menjadi stategi yang luar biasa untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Tengah sebagai gerbang industri dan energi bersih di kawasan penyangga IKN.(END)













