Suria Baya Lestarikan Tradisi Menabat Sungai, Warisan Leluhur Dayak yang Tak Lekang oleh Zaman

FAKTA KALTENG – Derasnya arus modernisasi tak membuat tokoh Dayak Barito Utara, Suria Baya, melupakan akar budayanya. Beruntung Faktakalteng.id di ajak oleh tokoh dayak itu, ke Danau Oray di kebunnya di arah jalan Benangin, Kecamatan Teweh Timur, Barito Utara, Kalimantan Tengah, selama 4 hari sejak hari Rabu 15 Juli 2026 hingga Sabtu 18 Juli 2026.

Faktakalteng.id dan rekan di ajak menginap di pondok kebunnya, untuk mengikuti kegiatan mencari ikan tersebut, dan suatu keberuntungan dan pengalaman seumur hidup, baru pertama kali Faktakalteng.id dan rekan bisa menyaksikan dan mengikuti kegiatan tersebut secara langsung.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang dinamis, ia justru memilih tetap menjaga serta melestarikan tradisi mencari ikan secara tradisional yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur Dayak.

Bagi Suria Baya, tradisi menabat dan menangkap ikan secara tradisonal sungai bukan hanya aktivitas menangkap ikan.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan warisan budaya yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan YME kepada manusia.

“Budaya ini adalah jati diri masyarakat Dayak. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar cerita, tetapi tidak pernah melihat ataupun merasakan prngalaman itu dan mengalami sendiri secara langsung tradisi leluhurnya,” ujar Suria Baya kepada Faktakalteng.id, Senin 20 Juli 2026 di kediamannya.

Ia menuturkan, setiap musim kemarau saat debit air sungai mulai surut, masyarakat Dayak sejak dahulu berkumpul melakukan menabat sungai-sungai.

Sungai dibendung secara sederhana agar ikan terkumpul di satu titik lokasi, kemudian ditangkap menggunakan tombak, dandang, maupun alat tangkap tradisional lainnya yang ramah lingkungan.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak pernah bertujuan mengeksploitasi alam. Sebaliknya, masyarakat adat memiliki aturan yang dijunjung tinggi untuk menjaga keseimbangan ekosistem sungai untuk keberlangsungan kehidupan alam semesta.

Ikan diambil secukupnya, sementara kelestarian habitat tetap dipelihara agar dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

“Orang tua kita mengajarkan mengambil hasil alam secukupnya. Alam harus dijaga karena sungai adalah sumber kehidupan masyarakat Dayak sejak dahulu hingga sekarang,” katanya tokoh Dayak yang di segani itu.

Suria Baya berharap pemerintah daerah, lembaga adat, serta generasi muda dapat bersinergi menjaga serta mempertahankan tradisi tersebut melalui kegiatan budaya, festival adat, hingga edukasi di sekolah.

Menurutnya, pelestarian budaya bukan soal bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan saja, tetapi juga menjaga tradisi dan sejarah, juga memperkuat identitas dan karakter masyarakat Dayak seutuhnya.

Ia menambahkan, tradisi menabat sungai memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kearifan lokal Kalimantan Tengah kepada masyarakat luas.

“Budaya adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Modernisasi boleh terus berjalan, tetapi budaya leluhur jangan sampai hilang. Selama tradisi ini tetap hidup, maka semangat, nilai, dan jati diri masyarakat Dayak akan tetap terjaga,” tegas Suria Baya.

Pelestarian tradisi menabat sungai menjadi bukti bahwa masyarakat Dayak tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga mewariskan filosofi hidup yang menghormati alam, menjunjung kebersamaan, dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, nilai-nilai luhur itulah yang terus diperjuangkan Suria Baya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *