FAKTA KALTENG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB) Kabupaten Barito Selatan mengutuk keras aksi pembakaran Lanting Jabing Salimbat yang diduga dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai tindakan yang mencederai nilai-nilai adat, budaya, dan kehormatan masyarakat Dayak, khususnya umat Hindu Kaharingan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Lanting Jabing Salimbat merupakan bagian dari rangkaian ritual adat dan keagamaan Hindu Kaharingan dalam acara Wara yang digelar di Desa Lembeng, Kecamatan Dusun Selatan, pada Juli 2026 lalu. Senin 3 Agustus 2026.
Usai prosesi puncak ritual selesai dilaksanakan, Lanting Jabing Salimbat dilarungkan ke Sungai Barito sebagai bagian dari tata cara adat. Namun, setelah dilarungkan, diduga ada oknum yang dengan sengaja membakar lanting tersebut.
Peristiwa itu memicu keprihatinan dan kecaman dari berbagai kalangan masyarakat adat.
Ketua DPC MMBB Barito Selatan, Sickprit YT, M.Pd, dalam pernyataannya pada Senin sore, menegaskan bahwa MMBB Barsel mengecam keras tindakan tersebut dan meminta aparat penegak hukum segera mengusut tuntas pelakunya.
“Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi harkat, martabat, adat istiadat, dan budaya masyarakat Dayak, kami mengutuk keras tindakan pembakaran Lanting Jabing Salimbat. Perbuatan ini merupakan bentuk pelecehan terhadap simbol adat dan melukai perasaan masyarakat adat,” tegas Sitkprit.
Ia juga menyampaikan bahwa Dewan Pembina dan seluruh jajaran DPC MMBB Barito Selatan berdiri satu sikap dalam mengutuk tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Menurutnya, simbol-simbol adat dan budaya merupakan warisan leluhur yang harus dihormati dan dijaga bersama. Karena itu, MMBB Barsel mendorong agar selain diproses sesuai hukum yang berlaku, pelaku juga dikenakan sanksi adat apabila terbukti melakukan perbuatan tersebut.
MMBB Barsel turut mengajak seluruh masyarakat adat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan wilayah, melestarikan lingkungan, serta mempertahankan adat istiadat dan budaya sebagai identitas masyarakat Barito Selatan dan Kalimantan Tengah.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Mari bersama-sama menjaga dan menghormati simbol-simbol adat sebagai bagian dari warisan budaya yang harus tetap lestari untuk generasi mendatang,” tutup Sitkprit.(MYD)













